Senin, 6 September, 2010 >>
 











 
 


Versi Cetak Kirim Ke Teman
 Published by : Adrian Adinabung* ::20 Agustus 2008 4:41 WIB


Memahami Alam Pikiran Tradisional Orang Manggarai
.

Paham-paham personal pun kolektif yang mencuat ke permukaan dari suatu masyarakat merupakan buah dari penghayatan  interaksi dan sosialisasi. Bila ditilik dari perspektif fenomenologi  mod­ern, setiap pengalaman yang ada pada manusia (masyarakat) selalu merupakan eksteriorisasi dari sebuah pengalaman tentang sesuatu. Sesuatu  yang  merupakan  isi dari pengalaman  itu  bisa  berupa interaksi antar-persona, juga interaksi persona dengan  lingkun­gan,  tradisi dan adat-istiadat yang  merupakan  dimensi-dimensi yang melingkupi adanya (masyarakat etnis) manusia.


Secara eksternal, hal-hal yang menyangkut pola laku,  sikap dan cara pandang merupakan ekspresi paling real dari terbentukn­ya  kepribadian manusia. Pada aras komunitas etnis,  keterkaitan antar-pribadi  memberi warna khas yang membedakan satu  kelompok masyarakat etnis dengan kelompok masyarakat etnis yang  lainnya. Inilah yang dalam termin antropologi budaya disebut suku bangsa, atau ras. Rasa keterkaitan yang intim dalam kelompok ras menjadi titik  tumpu lahirnya karakter khas dan eksklusif tertentu  pada orang-orang  dari  daerah asal yang sama  ketika  mereka  berada dalam  satu  masyarakat multikultural (masyarakat  kota).  Namun demikian, eksklusivitas itu tidak boleh dipandang sebagai  tanda larang  untuk satu interaksi lintas kultural yang  baru.  Justru dengan kesadaran akan diferensiasi itulah ciri dinamis eksisten­si manusia diaktualisasikan. Manusia sanggup beradaptasi bahkan merupakan ciptaan  Allah  yang  memiliki  derajat   kesanggupan "penyesuaian diri" paling tinggi.


Demikianlah,  untuk memahami kepribadian  masyarakat  etnis yang  termuat  dalam sikap dan pola pikir  maupun  cara  pandang orang  tertentu semestinya tidak boleh secara  subjektif-relatif ditakar  berdasarkan  situasi aktualnya saja di tempat  mana  ia hidup  dan berinteraksi. Setiap proses, dalam hal ini  interaksi sosial lintas kultural manusia, dalam bingkai inklusif  masyarakat  di  mana hidup orang-orang dari latar belakang  etnis  yang berbeda-beda, selalu berdimensi ganda. Di satu sisi, ada  kuali­tas-kualitas  tertentu yang akan lenyap atau  berubah  (misalnya sifat  ekslusif), dan di sisi lain, ada unsur-unsur  yang  tetap (kekhasan alam pikiran) yang tidak berubah. Dari perspektif ini, kembali  harus ditegaskan bahwa untuk menilai (jati diri)  orang tertentu  harus  disertai pertimbangan mengenai  latar  belakang etnis-primordial  dari mana orang itu datang. Hanya dengan  ker­angka itu, kita memiliki pegangan yang cukup objektif dan  pema­haman yang komperehensif mengapa orang-orang dari setting budaya yang  sama memiliki karakater tertentu yang relatif sama,  misa­lnya  bertemperamen halus, lemah, sopan, atau bahkan kasar  dan beringas.


Tulisan ini hendak melukiskan secara sedikit ilmiah,  seka­lipun  hanya  sepintas saja, prihal "Orang  Manggarai".  Mengapa orang  Manggarai memiliki sifat-sifat, pola pikir "begini"  atau "begitu"?  Apa sesungguhnya yang mereka hidupi dalam  lingkungan primordialnya  dan  bagaimana hal-hal itu  berpengaruh  terhadap masyarakat  maupun  individu-individu yang lahir  dalam  bingkai masyarakat etnis Manggarai itu? Jawaban  atas  pertanyaan-pertanyaan  inilah  yang  menjadi titik tumpu refleksi penulis. Tentu saja simpul dari tulisan ini adalah  pemahaman yang sedikit lebih komperehensif bahwa  kemam­puan  orang Manggarai untuk mengungkapkan diri  tetap  merupakan bukti keunggulannya sebagai manusia. Dan, unsur-unsur khas  yang melekat pada "orang Manggarai" yang dihidupinya dalam  komunitas plural dan inklusif mengungkapkan penghayatan emosionalnya yang mendalam akan pengalaman-pengalaman kulturalnya.


Alam Pikiran Orang Manggarai


Mengapa  latar  belakang falsafah  (alam  pikiran)  penting ditelaah? Karena trend umum bahwa kajian  filosofis-antropologis merupakan satu studi yang aktual dan relevan saja? Jawaban  yang boleh  mengemuka  untuk persoalan di atas  adalah  "barangkali". Paling  kurang  ada dua pertimbangan penting  mengapa  dikatakan "barangkali"  ketika  saya berhadapan dengan  persoalan  seperti ini.  Pertama,  kenyataan plural realitas etnis di  negara  kita merupakan  satu "kekuatan" serentak "bahaya".  Pluralitas  etnis menjadi  kekuatan  jika dimengerti dan dipahami  tidak  terlepas dari  konteks  orisinalitas eksistensi  suatu  masyarakat  etnis untuk selanjutnya dihargai sebagai potensi produktif bagi  kese­jahteraan  dan kebanggaan hidup sebagai bangsa  Indonesia.  Akan tetapi di sisi lain, kemajemukan dapat menjadi sumber api berba­haya  bila spirit primordialisme etnis dan cara  pandang  antar-etnis  dibiarkan  berkembang stereotipe tanpa  pengelolaan  yang matang.  Dari dalam situasi ini, hanya akan muncul  rasa  saling curiga, tidak saling menghargai kekhasan budaya dan  adat-istia­dat, arogansi etnis-kultural, dst. yang justru merupakan  pemicu bagi merusak dan merenggangnya komunikasi inter-sosio-kultural sebagai satu bangsa. Jadi, usaha mendalami alam pikiran masyarakat etnis tertentu, dalam hal ini kelompok etnis Manggarai, berguna  untuk membina  kedewasaan relasi antar-masyarakat etnis dalam  lingkup sosial yang lebih luas.


Kedua, alam pikiran suatu kelompok masyarakat etnis terten­tu,  meskipun  tidak selalu  berciri  ilmiah-sistematis,  sangat bermanfaat  bagi pengembangan ilmu-ilmu sosio-antropologi.  Dan, dalam konteks hidup bernegara, menyadarkan  setiap warga  negara  untuk senantiasa menaruh hormat  terhadap  nilai-nilai  pluralitas. Kesadaran yang sama turut  memacu kematangan hidup sebagai bangsa yang demokratis. Memahami falsafah hidup, juga turut menyadarkan kita mengenai  jati  diri  kebudayaan  kita  masing-masing.  Itu  berarti, "kesadaran"  selalu  merupakan sumber  cahaya  yang  menumbuhkan kuncup-kuncup semangat untuk, meminjam kata-kata Abraham Maslow, mengaktualisasikan  diri.  Apa artinya bertanya:  mengapa  orang Manggarai memiliki kebiasaan dan sikap "begini" atau  "begitu"?, jikalau hal itu tidak menghantar kita kepada kejernihan kesadar­an  dan  penemuan jati diri sendiri di  tengah  realitas  sosio-kultural yang serbaneka ini?


Kebersamaan dan Orang Lain


Sejak  manusia  lahir dari rahim ibunya,  ia  tidak  pernah hidup  sebatang kara. Walaupun karena kerapuhan insaninya,  mas­ing-msing  orang  cenderung untuk membebaskan diri  dari  ikatan sosial-kultural. Tuntutan hidup bersama ini mendorong orang tua-tua  dulu  harus berpikir dan  mencari  syarat-syarat  dasarnya. Kesadaran  itu terungkap  misalnya dalam cara orang  tua  secara turun  temurun  menegur anaknya yang  mengabaikan  aturan  hidup bersama. "Nana di'a-di'a bantang agu hae ata, calung-calung gauk agu  hae  wa'u, ai landing le mangad ase ka'e do;  ai  ite  tara manga  ranga'd one lino hoo. Toe le bengkar one mai belang.  Ite hoo manga taung kuni agu kalo'd mose'd. Maik tara manga dite  ai le manga dise Ende agu Ema, Ase agu Ka'e." (Terjemahan bebasnya: Anak, bekerja samalah yang baik dengan orang lain, juga  berlaku baik  terhadap famili. Keberadaan kita di atas muka  bumi  bukan sesuatu yang terlempar begitu saja seolah-olah dari rumpun buluh atau  ada karena sesuatu yang ajaib. Kita ada karena orang  lain ada, karena ada Ayah dan Ibu serta Saudara dan Saudari).  Kiasan yang paling ditekankan dalam rentetan kata di atas adalah  frase "bengkar one mai belang". Kata "bengkar" dalam bahasa  Manggarai sinonim dengan kata "pecak". Keduanya mempunyai arti yang  kira-kira sama, yaitu "menetas". "Belang" adalah genus bambu-bambuan, bambu  yang  pipih atau tipis atau lebih tepat  semacam  "buluh" untuk  membuat seruling bambu. Jadi, seluruh frase "bengkar  one belang"  secara harafiah-etimologis berarti: menetas dari  dalam bambu.


Dari  terjemahan sederhana itu, tampak bahwa kata-kata  itu tidak bermakna. Akan tetapi dalam tradisi, penggunaan kiasan itu sekurang-kurangnya  menyiratkan tiga arti:  pertama,  mematahkan dongeng kuno (kepercayaan mitis-magis) di Manggarai yang berpan­dangan  bahwa ada manusia yang pernah lahir dari  rumpun  bambu. Tentu  saja  dengan makin berkembangnya kesadaran  dan  pengaruh unsur-unsur  kebudayaan luar (Goa dan Bima) yang masuk ke  Manggarai,  maka keyakinan itu sedikit demi sedikit  memudar  sampai disadari  sebagai  kepercayaan yang sia-sia  (pengaruh  masuknya agama-agama mondial). Kedua, kata-kata itu juga merupakan  suatu petuah yang senantiasa diungkapkan oleh orang tua terhadap anak-anak  mereka  yang  mulai beranjak dewasa  dan  mandiri.  Mereka selalu dinasehati untuk tidak melupakan "kuni agu kalo", kampung halaman,  terutama  orang tua dan sanak keluarga,  kalau  mereka sudah  tinggal  terpisah dari orang tua. Ketiga,  ungkapan  yang sama selalu memberi warna bagi cara menyampaikan sesuatu  secara khas  lewat  bahasa-bahasa kiasan-alegoris.


 Tradisi  komunikasi adat  di Manggarai merupakan semacam spiral yang  berputar-putar dan  berbelit-belit, tapi maksudnya yang sebenarnya hanya  sedi­kit. Sekali pun secara rasional, penggunaan bahasa yang demikian sama  sekali  tidak efektif dalam komunikasi, tapi toh  hal  itu sudah  dihidupi  secara  inheren. Tidak  mengherankan  jika  ada kebiasaan orang-orang tua di pedesaan yang bila bertamu,  pembi­caraannya akan memakan waktu berjam-jam. Tapi maksud yang  sebe­narnya  akan  dia  ungkapkan  ketika  si  tamu  hendak  beranjak pulang.Misalnya ia datang untuk "meminjam barang tertentu"  atau "mengajak tuan rumah untuk menghadiri suatu kegiatan  tertentu", dll. Dengan demikian, terlihat bahwa ada sekian banyak interpre­tasi  yang  dapat  kita berikan berhadapan  dengan  kiasan  atau "go'et" yang dibahasakan secara halus (eufemistis).


Selain itu, dalam tradisi juga sudah ada pertanyaan  menge­nai  makna dan tujuan hidup bersama, yakni dambaan  untuk  hidup tentram, damai dan selaras dengan apa yang dihidupi oleh masyar­akat.  Dalam hal kerja sama sosial, terdapat ungkapan "Reje  le­leng, bantang cama (berembuk secara bersama dan laksanakan  pula secara  bersama,  atau  hidup saling  membantu).  Kata-kata  ini mengekspresikan  adanya nilai-nilai "kesalingan  dalam  kebersa­maan" dalam hal menyelesaikan tugas bersama, memenuhi  kebutuhan hidup,  termasuk  bagaimana orang-orang berembuk  dalam  rencana menyelesaikan  pekerjaan  berat atau urusan  masalah  adat  yang mengharuskan keterlibatan keluarga besar. Menurut orang Manggar­ai,  oleh  cara demikian, setiap manusia dalam  satu  masyarakat dapat melibatkan diri secara bertanggung jawab dalam  mengusaha­kan hidup bersama yang sejahtera penuh kedamaian.


Dalam  kerangka  hidup  bersama, pelukisan  di  atas  tidak berarti Orang Manggarai mengabaikan personalitas. Seorang priba­di,  menurut  cara pandang mereka, memiliki tempat  tertentu  di dalam  lingkup  sosial. Walaupun secara  tradisional  pandangan-pandangan  patriarkis dan diskriminatif masih ada. Misalnya  ada perlakuan yang berbeda-beda terhadap pribadi-pribadi  bergantung pada atribut yang melekat pada mereka. Dengan demikian  sepintas terlihat bahwa perlakuan terhadap pribadi-pribadi sangat bergan­tung pada atribut-atribut atau status sosial yang melekat  dalam diri  orang itu. Sekalipun demikian, jati diri  seseorang  tetap ditonjolkan dalam kebersamaan. Orang Manggarai tetap  berkeyaki­nan  bahwa setiap orang memiliki  kekhasan-kekhasan  individual. Nama,  misalnya,  merupakan sesuatu yang sangat  pribadi.  Dalam banyak hal, nama merupakan simbol tunggal, hanya mewakili priba­di yang bersangkutan. Dan karena itu, pemberian nama semata-mata ditentukan  menurut "selera" pemberi nama, tanpa  ikatan  marga. Hal  ini  menjadi alasan yang mungkin  mengapa  orang  Manggarai "seolah-olah"  diberi nama sesuka hati. Masing-masing anak  dari orang tua yang sama diberi nama belakang yang berbeda-beda (bdk. Frans Borgias, 1990, hlm. 180-189).


Selain itu tradisi masyarakat sudah memiliki pandangan yang positif  terhadap keberadaan seseorang. Manusia  adalah  ciptaan yang  patut disyukuri dan dihargai. Sehubungan dengan itu,  para orang  tua tidak begitu saja larut dalam perasaan kecewa  karena melahirkan  anak-anak  yang tidak sesuai  dengan  ideal  mereka, bertingkah  laku dan sikap anak yang berlawanan  dengan  harapan orang  tua.  Mereka tetap menaruh kasih pada  anak-anak  mereka. Sebuah  penggalan  syair  lagu Manggarai klasik  "Oe  Inang,  Oe Amang" berbunyi demikian: Am daatn'e, tama mangan'e; Am nenin'e, tama  wekin'e  (biar buruk rupanya, yang penting dia  ada;  biar kulitnya  hitam yang penting ia berbadan). Dari  penggalan  lagu ini terlihat bahwa hormat terhadap keberadaan manusia  merupakan suatu keharusan justru karena ia ada dan hadir di tengah masyar­akat (keluarga).


"Keunggualan  hidup"  pribadi mendapat tempat yang  positif dan  senantiasa  diperjuangkan sebagai satu ideal.  Setiap  anak oleh orang tuanya dinasehati untuk memiliki persiapan bagi  masa depan  yang  baik.  Secara parabolis  dikatakan  agar  seseorang senantiasa hidup seperti pohon yang kokoh: "Wake caler ngger wa, saung  bembang  ngger eta." (Berakar kuat ke  dalam  tanah,  dan berdaun rimbun). Ini mengisyaratkan suatu perjuangan hidup  yang sungguh-sungguh.  Kesungguhan itu harus tampak dalam  kematangan sikap  hidup,  pola  pikir dan tutur kata,  juga  memiliki  rasa tanggung jawab baik secara horisontal maupun vertikal.




Sketsa Mengenai Cara Mengenal yang Abstrak


Dari  kuliah epistemologi, kita memahami abstraksi  sebagai aktivitas  budi  manusia yang normal di mana  kesadaran  manusia mampu menarik citra dari suatu objek sekalipun objek itu  secara real  tidak hadir di hadapan si subjek. Kesanggupan itu  rupanya sudah  dikenal  dalam  tradisi hidup Orang  Manggarai.  Hal  itu terlihat misalnya dari cara mereka membahasakan realitas  semes­ta. Di sana secara sederhana sudah ada kesanggupan yang  melekat dalam  diri oarang tua-tua zaman lampau untuk menarik  pemahaman sederhana dari benda-benda yang dilihatnya. Hal paling  mencolok di sini biasanya tampak dalam gaya pengungkapan yang kaya dengan personifikasi-personifikasi, termasuk juga kiasan-kissan parabo­lis tertentu yang mencoba menarik garis penghubung yang melukis­kan kedekatan makhluk manusia dengan makhluk-makhluk dan  reali­tas alam sekitarnya.


Dalam kaitannya dengan usaha menjadi  manu­sia  ideal,  orang tua-tua menggunakan kiasan  berikut:  "lankas haeng ntala; agu uwa haeng wulang (agar tinggi menggapai bintang dan bertumbuh menggapai bulan). Kata-kata ini dapat  ditafsirkan sebagai suatu dorongan kepada anak-anak dan generasi muda  untuk memupuk diri menjadi manusia ideal. Sebab itu, meskipun  seseor­ang  tidak  melihat  suatu benda pada saat  tertentu,  dia  bisa memiliki pengertian tentang benda itu. "Teu ca ambo neka  woleng jangkong,  muku ce puu neka woleng curup" (Tebu serumpun  jangan beda  bicara,  pisang  sepohon janganlah  berbeda  tutur  kata). Ungkapan itu menyiratkan personifikasi di mana benda-benda  yang disebutkan  tidak  hadir  secara real  atau  dilukiskan  seperti manusia. Namun demikian biasanya konteksnya bisa dipahami.


Barangkali abstraksi sederhana inilah yang melatar belakan­gi mengapa maysarakat adat di Manggarai kaya dengan pengungkapan lisan  yang berasal dari rentetan bunyi kata yang  homofon  yang disebut  "go'et".  Go'et sepintas kedengaran  klise,  tapi  bila dipakai  dalam ritus adat, maka go'et menjadi  kata-kata  manjur dengan pelbagai nuansa. Ia bisa menjadi sebuah lambang kesopanan serentak mengandung sindiran tidak langsung untuk lawan  bicara. Tidak  semua  orang awam mampu menggunakan bahasa  go'et  secara baik. Go'et sering dipakai oleh sesepuh kampung (tu'a golo) atau oleh  pembicara  yang mewakili masing-masing  keluarga  mempelai pada upacara masuk minta (pongo wina) atau pada momen  kesepakatan  nikah  atau  tukar cincin secara adat  (rekak  agu  tukar kila).




Catatan Akhir


Di samping hal-hal positif di atas, kerapkali terjadi bahwa apa yang diungkapkan dengan bahasa halus (segol), seperti kebia­saan orang-orang di desa-desa, berbanding terbalik dengan kenyataan  yang bakal berjalan. Maka dalam hal memahami alam  pikiran Orang  Manggarai, "kebingungan" yang ditimbulkan oleh sikap  dan tutur  katanya  dapat  menjerat  orang  kepada  misinterpretasi. Artinya, di satu sisi, dengan membahasakan sesuatu secara terba­lik, orang Manggarai langsung memahami pesan yang mau  disampai­kan,  yakni  mengacu kepada etika  sopan-santun  terhadap  lawan bicara. Akan tetapi di sisi lain, untuk orang yang tidak mengen­al  baik  kekhasan cara berpikir/sikap tersebut,  maka  hal  itu justru menimbulkan salah paham. Satu ilustrasi kecil. Pengalaman awal seorang Pastor asal "Lamaholot" (Flores Timur) yang berkar­ya  di pedalaman Manggarai. Mula-mula ia merasa  sangat  bingung dengan  kebiasaan  bertingkah laku dan gaya  berbicara  umatnya. Setiap  kali  ia mengatakan "begini" atau  "begitu",  maka  umat (lawan bicaranya) selalu mengangguk dalam sambil mengatakan "io" (artinya  ya). "Jika mereka diminta atau  diperintahkan  membuat sesuatu," demikian cerita sang pastor, "saya selalu  mendapatkan jawaban "io" dengan anggukan mendalam. Tapi kenyataan  setelahn­ya? "Sekian sering", cerita Pastor, "mereka tidak berbuat sesua­tu apa pun dari jawaban io mereka." Mengapa demikian? Pertanyaan sang  Pastor sekali lagi menarik kita untuk melihat latar  bela­kang  hidup dan kebiasaan yang inheren pada setiap  lapisan  ma­syarakat  Manggarai.


Bahwasannya, Orang  Manggarai  (orang-orang sederhana,  yang ikatan adat mitis-magisnya masih kental)  tidak mungkin  mengatakan  "tidak mau" atau "tidak  suka"  (toek,  toe gori'g, toe ngoeng'g) kepada seseorang yang ia hormati,  walaupun apa yang diminta  orang itu daripadanya tidak sanggup ia lakukan atau bertetangan dengan pandangan atau pendapatnya. Bila ditelu­suri  lebih dalam, maka ada satu  hipotesa menarik yang  kiranya mendekati objektif. Hipotesa dari catatan sejarah Paul  Coolhas, sebagaimana  ditulis oleh J. Verhejen SVD, bahwa secara  bergan­tian,  Manggarai takluk kepada Kerajaan Goa  (Sulawesi  Selatan) dan  Bima  (Sumbawa). Pada tahun 1661,  untuk  pertama  kalinya, Manggarai  tunduk  di  bawah kekuasaan  Kerajaan  Bima.  


Sebagai kerajaan  taklukan,  maka raja Manggarai  wajib  membayar  upeti kepada  penakluknya. Demikian pula yang dilakukan terhadap  pen­guasa dari Kerajaan Goa (bdk. F.Pantur, VOX 1994, hlm. 106-107). Sejak  saat itu, sikap dan pola pandang orang  manggarai  adalah sikap dan pola pandang hamba terhadap tuannya. Sebagai hamba  ia wajib  untuk selalu mengatakan "io" kepada tuannya.  Jika  tidak demikian maka ia mungkin dihukum atau dibunuh.


Demikianlah  sepintas  refleksi penulis  sehubungan  dengan alam  pikiran antropologis Orang Manggarai.  Sepenuhnya  penulis sadari,  banyak  aspek yang sama sekali  tidak  disinggung  bila dibandingkan  dengan luasnya ruang lingkup etnis,  adat-istiadat orang  Manggarai.  Hal ini kiranya dapat dimaklumi  oleh  karena begitu  terbatasnya  referensi yang dimiliki penulis.  


Apa  yang tertuang  dalam  pikiran sederhana ini, lebih  banyak  merupakan hasil  pengamatan  sepintas dari penulis sendiri  (selaku  orang Manggarai) yang juga turut serta merasakan dan menghidupi  adat-istiadat  khas  Manggarai. Pembahasan dan ekspresi  literer  ini memang  sengaja  dimodifikasi sekian sekedar  untuk  menonjolkan betapa  pentingnya penelitian dan pengkajian  sosio-antropologis dan kultural yang lebih mendalam akan khasanah hidup yang begitu kaya  dari  masyarakat  adat kita.  Akhirnya,  penulis  berharap tulisan ini berguna, sekurang-kurangnya menjadi ajang  kebangki­tan  kesadaran  orang Manggarai untuk mengemukakan  kritik  atas tulisan ini.




*Penulis adalah alumnus STFK Ledalero, saat ini Program Officer Bidang Local Government, Institute for Local Development (ILD), Jakarta.

Versi Cetak Kirim Ke Teman

Bookmark and Share

Tulisan Terkait

::. Aktor Sosial : Dilihat 645 Kali
::. Memahami Alam Pikiran Tradisional Orang Manggarai : Dilihat 1661 Kali
::. Tinjauan Budaya Lio-Ende-Flores-NTT tentang Bumi : Dilihat 1780 Kali
::. Kita Tidak Butuh Korem di Flores : Dilihat 1676 Kali
::. Mbeliling Elok Terancam Pembabatan Liar : Dilihat 1377 Kali
::. Koli Sagu : Adatku Gerejaku : Dilihat 1372 Kali
::. Gerakan Habitus Baru Mulai dari Daerah : Dilihat 1325 Kali
::. Substansi Sertifikasi Profesi Guru : Dilihat 1769 Kali

Total Komentar :5 +/-

Not bad article, but I really miss that you didn't express your opinion, but ok you just have different approach
Dikirim Pada :4/3/2010 4:47:00 AM ---->Dari : ---->IP Komputer :81.198.225.194
Oleh :dallco ||| http://dallco.co.cc
wah baru kali ini ada blog mengenai sosiologi ......nice idea
Dikirim Pada :10/24/2009 12:45:58 PM ---->Dari :Semarang ---->IP Komputer :114.59.107.129
Oleh :Adrian ||| http://
Thaks Kae Frans.... memang inspirasi awal saya menulis ini topik ini adalah tulisan Kae di Basis waktu itu saya baca ketika kelas 5 di Kisol. Pada saat menyusun skripsi di Ledalero, saya banyak bergelut dengan studi tentang alam pikir dari aneka sudut pandang dan falsafah. Saat ini saya di Jakarta, kapan-kapan memang baik bisa diskusi... thanks
Dikirim Pada :5/12/2009 10:00:38 PM ---->Dari :Jakarta ---->IP Komputer :125.161.240.217
Oleh :fransiskus Borgias M. ||| http://
Sdr.Adrian Adinabung.
Terima kasih atas ulasan anda ini. Sebuah studi yang menarik bukan terutama karena merujuk salah satu tulisan saya dulu di Jurnal Kebudayaan BASIS, melainkan karena memang ini sebuah eksplorasi yang baik demi pengembangan dan pelestarian apa yang disebut local wisdom. saya juga mempunyai minat dan perhatian yang sama hingga saat ini. mungkin ada baiknya kita bisa bertemu dan saling berdialog satu sama lain pada suatu saat kelak.
Frans B.M. (UNPAR Bandung).
Dikirim Pada :10/14/2008 9:18:53 PM ---->Dari :Jakarta ---->IP Komputer :125.163.4.38
Oleh :aha ||| http://arifhartono.com
tulian yang bagus...
Dikirim Pada :8/21/2008 1:13:14 AM ---->Dari :Jakarta ---->IP Komputer :125.161.183.176

Isi Komentar Anda +/-

Nama
Email
Website
Propinsi/Kota
Komentar
Form key
Generated key vqc1pev

 
Copyright © 2008 EnterFlores.com. All Rights Reserved.