Tanah, udara, api, dan air tak dapat dilepaspisahkan dari keberlangsungan hidup tumbuhan, hewan, dan manusia. Keempat unsur material tersebut an sich tidaklah cukup untuk memahami tentang pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup. Tetapi, keempat material itu membutuhkan keterangan sebagai berikut: tanah yang subur, udara yang bersih, api yang tidak kebesaran, dan air yang sehat bila orang hendak berbicara tentang keberlangsungan makhluk hidup yang lebih baik. Tanah yang subur, udara yang segar, panas yang menghangatkan, air yang sejuk dapat ada bila bumi menyediakannya.
Persoalan muncul tatkala manusia menghadapi kenyataan tanah menjadi tandus akibat dari adanya erosi, hutan dibasmi akibat dari penebangan dan pembakaran liar, air menjadi kotor akibat dari limbah industri, udara menjadi tidak higienis akibat asap pabrik dan kendaraan yang semakin bertambah, lapisan ozon kian menipis, musim mulai tak teratur pergerakannya. Bahkan kenyataan mengenai pemanasan global menjadi isu yang sungguh mengagetkan, mengerikan, dan membawa harapan negatif bagi keberlangsungan bumi ini.
Pertanyaan kita adalah apa atau siapa penyebab dari situasi alam dan lingkungan yang kian ‘amburadul’ ini? Penyebab atau akar masalahnya sekurang-kurangnya ada dua, yakni pertama, dari alam itu sendiri berupa gempa bumi dan bencana alam yang tak terduga lainnya; kedua, dari pihak manusia yang durjana dan egois.
Kedurjanaan manusia yang melahirkan bencana alam tentu dapat ditinjau dari pelbagai aspek persoalannya: sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Tulisan ini coba menengok persoalan alam-lingkungan (bumi) dari aspek budaya. Mudah-mudahan tulisan ini mampu mengetuk kesadaran kita untuk menghargai dan mencintai bumi yang kita hidupi ini. Mudah-mudahan pula kita boleh memperoleh spirit dan motivasi untuk menggali semangat dan inspirasi dari budaya kita masing-masing demi mencintai alam-lingkungan kita.
Manusia dan Budaya
Manusia adalah mahluk berbudaya. Melalui kebiasaan dan rutinitas, manusia melahirkan karakter dirinya. Melalui karakter dari pelbagai orang di suatu tempat tertentu dan dalam jangka waktu yang cukup lama, manusia mampu melahirkan budaya tertentu. Selanjutnya secara turun-temurun, budaya dapat melahirkan kebiasaan dan karakter pada setiap individu dalam suatu masyarakat di daerah tertentu. Dengan demikian, antara manusia dan budaya sering bahkan selalu terjadi saling mempengaruhi; di mana secara positif akan saling menumbuhkembangkan, tetapi secara negatif bisa saling merusak. Manusia yang durjana merusak budayanya; atau sebaliknya, budaya yang keliru merusak manusia dan kemanusiaannya.
Manusia adalah “Suami” untuk Bumi
Dapat ditemukan pelbagai pandangan dan gagasan masyarakat Flores mengenai pentingnya menyelamatkan alam dan lingkungan. Ada pandangan dari budaya Lio-Ende-Flores-NTT mengenai bumi dan manusia. Dan memang masih begitu banyak pemahaman dan gagasan dari pelbagai suku dalam masyarakat Flores, namun kita cukup mengangkat satu dua sapaan adat untuk menggali pemahaman yang lebih mendalam betapa pentingnya menjaga dan merawat alam ciptaan Tuhan ini. Pandangan masyarakat tersebut sebagai berikut:
Ulu mila Semuanya itu gelap (kegelapan)
Mata ria Mata besar (keesaan)
Ema Du’a nebu liru ngendo mesi deso Bapa Ilahi sudah lebih dahulu ada di saat
lagit terbuka, air laut turun.
Bhegha puse tana. Tanah terbuka, nampak pusat bumi.
Tana baru sa paga. Ukuran tanah (bumi) baru sejengkal.
Liru baru sa siku. Ukuran langit baru se hasta.
Tana tu’u watu maja. Tanah dan batu masih kering.
Unga sula. Uap muncul.
Nu nai. Asap (awan) naik.
Rubu nu. Awan mengepul.
Angi mai. Muncul angin.
Uja poa. Hujan turun.
Ine eo wuku laja dana, eo kambu kapa tembu tiko tana. Ibu (bumi) yang
kandungannya subur, melahirkan dan menumbuhkan di mana-mana.
Ria Kai sa ela tana. Penguasa jagat raya.
Bewa Kai sa ela meta. Kuasa-Nya tidak ada yang melebihi.
Ria ata iwa langga. Penguasa yang tidak dilebihi oleh siapa pun.
Bewa Kai ata iwa ndore. Kekuasaan yang tertinggi, tidak ada yang melebihi.
Ema Du’a Kau tipo. Bapa Ilahi yang menjaga.
Ine Ngga’e Kau pama. Ibu Ilahi yang memelihara.
Mo tondo paga saga. Memelihara dan membesarkan.
Pemba iwa gopi gela ka’o iwa midho madho.Gendong dengan baik sehingga tidak jatuh.
Supu sai we mbale. Berusahalah agar berhasil.
Gaga bo’o. Bekerjalah agar hasilnya berlimpah-ruah.
Peni nge. Peliharalah agar berkembang.
Wesi nuwa. Peliharalah binatang-binatang agar berkembang biak.
Tedo tembu. Menanam akan bertunas.
Wesa Wela. Menabur akan bertumbuh.
(Nara Sumber: Bapak Nikolaus Nanga. Tokoh adat Woloaro-Watuneso-Lio-Ende-Flores-NTT).
Pemahaman ini dapat dibahasakan sebagai berikut. Semuanya itu gelap, air melingkupi segalanya. Terang pun terbit. Langit naik, air laut mulai surut. Secara perlahan muncullah “puse” (pusat/permukaan) bumi. Kemudian muncul perut bumi/tanah kering (tuka tana); sebagai akibat dari panas yang keluar dari terang yang menyinari bumi tersebut. “Tana tu’u watu maja (uap naik), terjadilaj angin dan awan; hujan pun turun. Bumi baru sejengkal ukurannya. Kemudiaan secara perlahan muncul daratan yang semakin luas. Ini terjadi atas kehendak Yang Ilahi. Dan Yang Ilahi sudah ada sebelum segala sesuatu. Yang Ilahi itu adalah Penguasa jagat raya dan kekuasaan-Nya tidak ada yang melebihi. Diyakini pula bahwa Yang Ilahi memiliki sifat kebapaan sekaligus keibuan. Bapa yang menjaga. Ibu yang memelihara, menggendong, dan membesarkan kehidupan. Memahami hubungan antara manusia dan bumi untuk masyarakat Flores tidak dapat dilepas-jauhkan dari peran Yang Ilahi.
Bumi yang telah terbentuk dipandang sebagai ibu. Sebagai ibu, bumi memiliki kandungan yang subur, berlemak tebal, gemuk, tambun; selain itu benih-benih dari bumi tumbuh di mana-mana.
Diyakini pula bahwa untuk menjaga segala sesuatu di atas bumilah, maka manusia diciptakan oleh Sang Ilahi. Keterpanggilan manusia adalah untuk menjaga segala yang di atas tanah. Itu berarti sebagai makhluk yang diciptakan dan tinggal di atas bumi, manusia hendaknya selalu menghargai bumi (ibu). Sementara untuk kelangsungan hidupnya, manusia hendaknya berusaha supaya selalu berhasil; bekerja supaya dapat hidup. Caranya adalah dengan memelihara binatang-binatang agar berkembang biak, menanam supaya memperoleh hasil, menabur supaya mendapatkan rezeki. Ini merupakan pula suatu bentuk menerima pemberian ibu (bumi) dan mengembangkannya. Menjaga dan memelihara bumi berarti menjaga dan memelihara ibu yang menyediakan benih dan kesuburan bagi tanaman dan binatang. Manusia dikatakan benar dan baik bila ia selalu melestarikan bumi (ibunya) ini.
Bumi, Ibu yang Harus Diselamatkan
Bumi menyediakan pelbagai energi, mineral, benih, maupun kesuburan bagi tumbuhan, hewan dan manusia. Bumi itu ibarat ibu yang menyediakan pelbagai hal yang berguna bagi keberlangsungan hidup manusia. Bumi memberikan tanah yang subur, udara yang segar, air yang jernih, panas yang menghangatkan. Bumi juga turut menjaga keutuhan dan keseimbangan alam semesta. Bumi melindungi manusia dari terpaan panas yang berlebihan maupun dingin yang membekukan kehidupan.
Namun apa yang terjadi dengan bumi akhir-akhir ini? Bumi yang ramah dan penuh kasih, bumi yang selalu mau menghadiahkan benih yang terbaik, tanah yang subur, sumber-sumber mata air yang menyejukkan, kehangatan udara melalui pepohonan yang rindang ternyata kini mulai menderita kerusakan dan kehancuran. Seperti seorang ibu, bumi seolah mulai ditinggalkan oleh anak-anaknya. Anak-anak manusia sudah kurang peduli terhadap bumi. Mereka melukai, mengeruk, dan tidak mau bersahabat dengan bumi. Pelbagai usaha yang dilakukan manusia yang egois dan ingat kelompok sendiri telah turut berperan menghancurkan bumi itu sendiri. Penggalian mineral yang berlebihan, pembakaran hutan secara besar-besaran, pembabatan pepohonan secara liar, penggunaan obat-obat anorganik yang berlebihan merupakan dalang dan bagian dari usaha membunuh ibu kehidupan itu sendiri. Bahkan gejala yang semakin nyata akhir-akhir ini adalah semakin menipisnya lapisan ozon yang tentunya akan sangat membahayakan seluruh umat manusia. Bumi mulai kepanasan akibat dari pemanasan global. Hal ini membuat bumi menderita dan bersedih.
Seperti seorang ibu yang bersusah dan menderita, bumi mesti kembali disapa oleh kasih anak-anaknya. Sebagai anak-anak yang menghuni bumi ini, setiap kita perlu menghibur, menyembuhkan luka-luka, menjaga dan merawat ibu yang sedang sekarat ini. Bumi haruslah diselamatkan.
Usaha penyelamatan bumi bertujuan agar nantinya bumi dapat mengeluarkan dan memberikan benih kehidupan yang baru bagi semua makhluk hidup. Usaha penyelamatan ini adalah juga bagian dari kesadaran setiap anak manusia atas kasih dan rahmat dari Yang Ilahi. Anak-anak manusia haruslah terpanggil untuk turut terlibat dalam karya Ilahi menyelamatkan bumi dari kehancurannya.
Kita mesti belajar dari budaya-budaya kita sendiri demi menemukan sumber inspirasi agar kita tidak terjebak pada kesalahan yang sama yakni menghancurkan ibu kehidupan kita sendiri.
Berdasarkan refleksi di atas yang bertolak dari pandangan masyarakat Lio-Ende-Flores tersebut sekurang-kurangnya, kita boleh menemukan makna hidup bagi manusia. Pertama, hidup manusia tidak terlepas dari penyelenggaraan dan campur tangan dari Yang Ilahi, Allah. Kedua, hidup manusia tidak dapat dilepas-pisahkan dari bumi. Bumi memberikan tanah yang subur, udara yang segar, air yang jernih, panas yang menghangatkan. Ketiga, manusia hendaknya seperti bumi yang lebih banyak memberi dari pada menerima. Manusia hendaknya seperti tanah, udara, api, air, dan tumbuhan yang senantiasa memberi, melahirkan, menyuguhkan, mempersembahkan secara sungguh-sungguh benih dan buah kehidupan yang terbaik dan bermutu bagi yang lainnya. Keempat, belajar dari alam, manusia hendaknya saling memberi dan melayani dalam pengorbanan yang murni, bukannya bersikap egois. Kelima, agar bumi tetap menjadi ibu yang baik, menyediakan kesuburan, serta menjaga kita, maka kita pun mesti memiliki kesungguhan hati untuk memelihara dan melestarikan bumi beserta segala isinya. Perlindungan terhadap daerah mata air dan hutan, penanaman pohon, pengurangan asap pabrik dan kendaraan bermotor adalah suatu keharusan bagi kita di zaman ini. Manusia bergantung dari bumi/tanah berupa sari-sari makanan, air minum yang bersih, dan lain-lainnya. Lebih mendalam dari itu, manusia diciptakan dari tanah, dan akan kembali ke tanah. Keenam, bumi, sebagai ibu, mesti diselamatkan dari keganasan egoisme dan kelompokisme manusia zaman ini. Merusak bumi dengan cara merusakan alam-lingkungan, baik secara langsung maupun tidak langsung, berarti merusakkan pula budaya yang benar, baik, dan utuh dalam masyarakat berbudaya tersebut.
Bukan hanya lingkungan alam (bumi) kita yang perlu ditata secara baru, melainkan juga manusia perlu ditata secara baru dalam segala dimensi kehidupan. Kebiasaan dan karakter yang merusak ibu (bumi) kita yang tercinta ini mesti ditanggulangi. Masing-masing kita perlu menggali lagi nilai-nilai budaya untuk menemukan pendorong yang tangguh demi menyelamatkan ibu (bumi) dari kehancurannya. Wonda, 21 Mei 2008.