Kempu atau Cerep (dalam adat masyarakat Manggarai di Flores berarti masuk minta) merupakan pertemuan pertama keluarga besar laki-laki dan keluarga besar perempuan pasangan yang akan hidup berkeluarga. Dua keluarga yang menyepakati tanggal pertemuan itu. Kempu terdiri dari tiga acara pokok. Pertama, dialog jumlah belis (emas kawin) berupa uang dan hewan (biasanya kerbau dan kuda). Kedua, tukar cincin (bila jumlah belis sudah disepakati bersama). Ketiga, Paki Ela Mbukut (potong babi sesajian) sebagai tanda peresmian ikatan kekerabatan antara pihak keluarga laki-laki (anak wina) dan pihak keluarga perempuan (anak rona). Pihak laki-laki akan membawa sebagian dari babi sesajian tadi sebagai bukti laporan kepada keluarga besar.
Tataran Sosiologis
Kempu menjadi peristiwa konsolidasi kekerabatan melalui perkawinan. Kekerabatan dua keluarga besar tadi menjadi bagian dari komunitas masyarakat adat setempat. Di sini, Kempu menjembatani perbedaan status, golongan, dan pangkat antar pihak keluarga laki-laki dan keluarga perempuan.
Dinamika keluarga baru itu menyatu dalam dinamika komunitasnya karena seluruh sistem tatanan komunitas pasti mempengaruhi keberadaan setiap keluarga di dalamnya. Dengan kata lain, Kempu, sebagai tatanan lokal, mereformasi ikatan kekerabatan, baik pada pihak laki-laki maupun pada pihak perempuan, untuk memperkuat keberadaan sistem komunitas masyarakat adat setempat. Oleh karena itu, Kempu menjadi public forum yang dinamis di mana semua kepentingan keluarga dan regulasi adat-istiadat berjumpa dan saling melengkapi.
Keluarga : Character Builder
Keluarga memegang peranan penting dalam meletakan pengetahuan dasar tentang Karakter. Keluarga sebagai sekolah rumah tangga tidak lain adalah sebuah tempat di mana kita mengenal dan merasakan sebuah perbedaan karakter di antara anggota keluarga. Dalam keluargalah kita pertama kali mengenal perilaku-perilaku dan sikap-sikap yang menjadi dasar untuk membangun karakter pribadi dalam berelasi dengan masyararakat sekitarnya.
Apabila kita sungguh mengenal dan mendalami peran keluarga sebagai sekolah pertama dan utama, maka kita tidak perlu mengalami berbagai problem sosial kemasyarakatan yang timbul akibat berbagai sekolah rumah tangga yang gagal karena perceraian, narkoba, dan berbagai kejahatan lainnya. Sayangnya, banyak keluarga dewasa ini tidak menyadari perannya yang strategis ini dalam upaya pembentukan karakter seseorang dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Keluarga tidak lagi menjadi sekolah, tetapi menjadi tempat suburnya berbagai masalah kekerasan yang dipicu oleh media, masalah ekonomi, pergaulan bebas, dan tuntuan sekolah formal yang berlebihan dsb.
Karena Kempu menjadi sistem nilai lokal yang berfungsi menjaga sistem komunitas masyarakatnya, seyogyanya pemerintah dan agama memberi perhatian demi melestarikannya. Pemerintah terlibat dalam berbagai kebijakan yang menjamin hak masyarakat adat untuk mengekpresikan nilai-nilai budayanya. Kongkritnya bisa melalui implementasi peaturan daerah yang melestarikan inisiatif-inisiatif lokal dalam kemajemukan masyarakat. Sedangkan partisipasi agama lebih efektif dengan berbagai pemberdayaan yang bersifat kemanusiaan.
Mengingat semua nilai kemanusiaan yang universal hanya dapat tumbuh dan berkembang lebih manusiawi dalam situasi dan tradisi yang menjaga nilai-nilai itu sendiri. Maka, sinergitas semua elemen kemasyarakatan seperti keluarga, sekolah, pemerintah dan keagamaan mutlak diperlukan dan diupayakan bersama-sama. (Antonius Gea dan Lelo Yosep adalah Dosen Universitas Bina Nusantara Jakarta)
Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Hati Baru No. 09, Tahun XII, Agustus 2009.
Saya tunggu kabarnya ya sob ...
Komentar disini ya sob ...
http://adamkurniawan.wordpress.com/2009/10/0 6/handphone-motorola-punya-radiasi-tertinggi/
Coment Balik ah..!!
interest programming? visit my blog, read and leave comment
All About Computer